Sabtu, 29 Maret 2014

Sejarah Pencak Silat Indonesia

Sejarah Pencak Silat

Sejarah adalah segala kegiatan manusia dan segala kejadian yang ada hubungannya dengan kegiatan manusia sehingga mempunyai akibat adanya perbuatan politik, sosial, ekonomi, dan Kebudayaan dan semuanya di tinjau dari sudut perkembangannya (adanya saling hubungan antara manusia, tempat dan waktu).
Sejarah berasal dari kata “sajarah” istilah Arab artinya pohon, keturunan, silsilah asal-usul, jadi sejarah semula berarti riwayat keturunan, lama kelamaan mengandung arti yang lebih luas yakni “rangkaian peristiwa-peristiwa penting yang mempunyai hubungan sebab akibat dan membawa perubahan-perubahan bagi kehidupan manusia”.
Dengan mengetahui sejarah diharapkan seseorang lebih memiliki dan mencintai serta berusaha terus untuk menjaga kelestarian pusaka karuhun warisan leluhur nenek moyang bangsa Indonesia yang kini dikenal Pencak Silat.
Berdasarkan catatan, Aliran Pencak Silat tertua di Nusantara terdapat di Jawa Barat yaitu Aliran Cimande yang berpusat di Kampung Tarikolot Desa Lemah Duhur Kabupaten Bogor, yang dikembangkan oleh Eyang Kaher ( Embah Kair ), kemudian disusul dengan Aliran Syahbandar yang dikembangkan oleh muridnya yang bernama Mochamad Kosim (dikenal dengan sebutan Mama Syahbandar) orang  Purwakarta, dikembangkan di Daerah Pagar Ruyung Tanah Datar Sumatera Barat, Mochamad Kosim lahir pada Tahun 1776 dan Wafat pada Tahun 1880, ( makamnya di Wanayasa, Purwakarta).
Kemudian Cimande dikembangkan di Jakarta oleh murid-muridnya  Embah Kair yaitu Raden Ateng Alimudin, Bang Ma’ruf, juga Bang  Madi yang mengembangkan  di Tanjung Priok, kemudian dikenal dengan Aliran Madi. dan Bang Kari yang mengembangkan di Kampung Karet Tanah Abang, sehingga dikenal Aliran Kari.
Selain itu, Raden H. Ibrahim yang berguru kepada Raden Ateng Alimudin, Bang Ma’ruf, Bang Madi dan Bang Kari, mengembangkan Pencak Silat di daerah Cikalong Cianjur Jawa Barat, kemudian dikenal dengan Aliran Cikalong ( RH. Ibrahim lahir Tahun 1816 dan wafat 1906).
Aliran Pamacan dan Pamonyet muncul karena gerakannya yang menyerupai gerak-gerak Harimau (Macan) dan Kera (Monyet), sedangkan Aliran Cikaret ( Cikeruhan ) dikembangkan  diantaranya oleh Kyai Haji Raden Dani Maulana Isya Syaif,  dan selain itu juga Aliran Timbangan yang dikembangkan di Daerah Jawa Barat/ Tatar Sunda,  dikenal Timbangan karena gerakan tersebut penuh dengan pertimbangan  dan ini merupakan rumusan dari para Tokoh Persilatan diantaranya Raden Anta Kusuma dan Raden Enoch Atmadibrata.
Sejak dari pejajahan Belanda, kemudian di lanjutkan dengan pendudukan Jepang, peranan Pencak Silat sangat besar sekali sebagai ilmu Beladiri dan sebagai alat perjuangan untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.
PERKEMBANGAN PENCAK SILAT DI INDONESIA
Mengingat betapa besar dan pentingnya peranan Pencak Silat didalam sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, maka dibentuk Organisasi Pencak Silat yang bersifat Nasional yang dapat mengikat Aliran-aliran maupun Perguruan-perguruan Pencak Silat dan memupuk kehidupan dan perkembangan Pencak Silat di seluruh Indonesia.
Pada tanggal 18 mei 1948 di Kota Solo / Surakarta di bentuk Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia disingkat IPSSI, kemudian pada tanggal 23 desember 1950 nama Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia di rubah menjadi Ikatan Pencak Silat Indonesia disingkat IPSI dan sebagai Ketua Umum Mr. Wongsonegoro serta Wakil Ketua Umum SP. Paku Alam VIII.
Pada tahun 1952 Lembaga Pencak Silat terbentuk dibawah Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PP dan K) dengan tugas sebagai berikut :
  1. Menghimpun bahan-bahan tentang Pencak Silat
  2. Memberi pelajaran Pencak Silat kepada para penggemarnya
Sejak PON I sampai dangan PON VII tahun 1969 Pencak Silat hanya merupakan salah satu cabang olahraga yang di perlombakan dan didemontrasikan saja, namun pada PON VIII tahun 1973 di Jakarta Pencak Silat mulai di pertandingkan.
Pencak Silat mulai melebarkan sayapnya di luar kawasan rumpun melayu sejak didirikannya Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (PERSILAT) oleh 3 negara yaitu Singapore, Malaysia, dan Indonesia pada tanggal 11 maret 1980 dan sebagai Ketua Presidium PERSILAT terpilih Bapak H.Eddie M.Nalapraya, kemudian Pencak Silat mulai dapat dipertandingkan dalam SEA GAME yaitu September 1987 pada SEA GAME ke XIV. dan sekarang sudah menyebar dikawasan Benua Eropa, Amerika, Australia.
PENGERTIAN PENCAK SILAT
Pencak Silat sebagai salah satu unsur budaya yang bersumber dari bumi Indonesia khususnya rumpun Melayu, maka Pencak Silat jelas mempunyai peranan dan andil yang cukup besar didalam memupuk cinta kepada tanah air dan sebagai bagian dari Ketahanan Nasional.
Pencak Silat mengandung 4 (empat) Aspek Utama, yaitu :
1. Aspek Mental Spiritual
2. Aspek Beladiri
3. Aspek Seni Budaya
4. Aspek Olahraga
Sehingga apabila kita ingin mempelajari Pencak Silat secara utuh maka aspek tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain, tetapi merupakan satu kesatuan dan apabila kita berbicara / mempelajari salah satu aspeknya maka aspek yang lain akan terkait seperti di uraikan berikut :
  1. Manusia sebagai makhluk sosial menginginkan falsafah moral dan etika bagi kehidupan yang ideal, yang ditegakan dengan membina Kemahiran Beladiri, cinta kepada Seni dan gemar pada Olahraga.
  2. Dengan mempelajari Beladiri, akan membina mental / moral yang lebih baik serta mencitai Seni dan Olagraga.
  3. Dengan Seni Pencak Silat sekaligus dapat terbina moral dan etika yang mengandung juga unsur Beladiri dan Olahraga.
  4. Dengan Olahraga akan menimbulkan jiwa / moral yang sehat, dapat membeladiri serta mengandung unsur-unsur Seni.
Dari uraian di atas di dapat pengertian :
Pencak adalah gerak dasar Beladiri yang terikat pada peraturan dan di gunakan dalam belajar, latihan dan pertunjukan.
Silat adalah gerak Beladiri yang sempurna, yang bersumber pada kerohanian yang suci murni, guna keselamatan diri atau kesejahteraan bersama, menghindarkan diri / manusia dari bala atau bencana.
Pencak Silat adalah hasil budidaya manusia Indonesia untuk membela / mempertahankan eksistensi (kemandirian) dan integritasnya (manunggalnya) terhadap lingkungan hidup / alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Sumber.  http://vunney.wordpress.com/

MASUKNYA ISLAM DI TANAH PASUNDAN


MASUKNYA ISLAM DI TANAH PASUNDAN

BERBICARA tentang proses masuknya Islam (Islamisasi) di seluruh tanah Pasundan atau tatar Sunda yang sekarang masuk ke dalam wilayah Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, maka mesti berbicara tentang tokoh penyebar dari agama mayoritas yang dianut suku Sunda tersebut. Menurut sumber sejarah lokal (baik lisan maupun tulisan) bahwa tokoh utama penyebar Islam awal di tanah Pasundan adalah tiga orang keturunan raja Pajajaran, yaitu Pangeran Cakrabuana, Syarif Hidayatullah, dan Prabu Kian Santang.

Sampai saat ini, masih terdapat sebagian penulis sejarah yang meragukan keberadaan dan peran dari ketiga tokoh tersebut. Munculnya keraguan itu salah satunya disebabkan oleh banyaknya nama yang ditujukan kepada mereka. Misalnya, dalam catatan beberapa penulis sejarah nasional disebutkan bahwa nama Paletehan (Fadhilah Khan) disamakan dengan Syarif Hidayatullah. Padahal dalam sumber sejarah lokal (cerita babad), dua nama tersebut merupakan dua nama berbeda dari dua aktor sejarah dan memiliki peranan serta kedudukan yang berbeda pula dalam proses penyebaran Islam di tanah Pasundan (dan Nusantara).

Selain faktor yang telah disebutkan, terdapat juga faktor-faktor lainnya yang mengakibatkan munculnya keraguan terhadap ketiga tokoh tersebut. Di antaranya seperti kesalahan pengambilan sumber yang hanya mengambil sumber asing seperti catatan orang Portugis atau Belanda; atau juga disebabkan sering banyaknya mitos yang dijumpai para penulis sejarah dalam beberapa sumber lokal. Kondisi seperti ini sangat membingungkan dan meragukan setiap orang yang ingin mencoba merekonstruksi ketiga tokoh penyebar Islam di tanah Pasundan tersebut.

Dengan berdasarkan pada realitas historis semacam itu, maka tulisan ini akan mencoba mengungkap misteri atau ketidakjelasan kedudukan, fungsi, dan peran ketiga tokoh itu dalam proses Islamisasi di tanah Pasundan. Dengan demikian diharapkan tulisan ini dapat memberikan sumbangan berarti terhadap khazanah sejarah kebudayaan Islam-Sunda yang sampai saat ini dirasakan masih kurang. Selain itu diharapkan juga dapat memberikan informasi awal bagi para peminat dan peneliti tentang sejarah Islam di tanah Pasundan.

Sumber-sumber Sejarah

SEBENARNYA banyak sumber sejarah yang belum tergali mengenai bagaimana proses penyebaran Islam (Islamisasi) di tanah Pasundan. Sumber-sumber tersebut berkisar pada sumber lisan, tulisan, dan artefak (bentuk fisik). Sumber lisan yang terdapat di tanah Pasundan tersebar dalam cerita rakyat yang berlangsung secara turun temurun, misalnya tentang cerita “Kian Santang bertemu dengan Sayyidina Ali” atau cerita tentang “Ngahiang-nya Prabu Siliwangi jadi Maung Bodas” dan lainnya. Begitu pula sumber lisan (naskah), sampai saat ini msaih banyak yang belum disentuh oleh para ahli sejarah atau filolog. Naskah-naskah tersebut berada di Museum Nasional, di Keraton Cirebon Kasepuhan dan Kanoman, Museum Geusan Ulun, dan di daerah-daerah tertentu di wilayah Jawa Barat dan Banten, seperti di daerah Garut dan Ciamis. Di antara naskah yang terpenting yang dapat dijadikan rujukan awal adalah naskah Babad Cirebon, naskah Wangsakerta, Babad Sumedang, dan Babad Limbangan.

Sumber lainnya yang dapat dijadikan alat bantu untuk mengetahui proses perkembangan Islam di tanah Pasundan ialah artefak (fisik) seperti keraton, benda-benda pusaka, maqam-maqam para wali, dan pondok pesantren. Khusus mengenai maqam para wali dan penyebar Islam di tanah Pasundan adalah termasuk cukup banyak seperti Syeikh Abdul Muhyi (Tasikmalaya), Sunan Rahmat (Garut), Eyang Papak (Garut), Syeikh Jafar Sidik (Garut), Sunan Mansyur (Pandeglang), dan Syeikh Qura (Kerawang). Lazimnya di sekitar area maqam-maqam itu sering ditemukan naskah-naskah yang memiliki hubungan langsung dengan penyebaran Islam atau dakwah yang telah dilakukan para wali tersebut, baik berupa ajaran fiqh, tasawuf, ilmu kalam, atau kitab al-Qur’an yang tulisannya merupakan tulisan tangan.

Tokoh Cakrabuana

BERDASARKAN sumber sejarah lokal (seperti Babad Cireboni) bahwa Cakrabuana, Syarif Hidayatullah, dan Kian Santang merupakan tiga tokoh utama penyebar Islam di seluruh tanah Pasundan. Ketiganya merupakan keturunan Prabu Sliliwangi (Prabu Jaya Dewata atau Sribaduga Maha Raja) raja terakhir Pajajaran (Gabungan antara Galuh dan Sunda). Hubungan keluarga ketiga tokoh tersebut sangatlah dekat. Cakrabuana dan Kian Santang merupakan adik-kakak. Sedangkan, Syarif Hidayatullah merupakan keponakan dari Cakrabuana dan Kian Santang. Syarif Hidayatullah sendiri merupakan anak Nyai Ratu Mas Lara Santang, sang adik Cakrabuana dan kakak perempuan Kian Santang.

Cakrabuana (atau nama lain Walangsungsang), Lara Santang, dan Kian Santang merupakan anak Prabu Siliwangi dan hasil perkawinannya dengan Nyai Subang Larang, seorang puteri Ki Gede Tapa, penguasa Syah Bandar Karawang. Peristiwa pernikahannya terjadi ketika Prabu Siliwangi belum menjadi raja Pajajaran; ia masih bergelar Prabu Jaya Dewata atau Manahrasa dan hanya menjadi raja bawahan di wilayah Sindangkasih (Majalengka), yaitu salah satu wilayah kekuasaan kerajaan Galuh Surawisesa (kawali-Ciamis) yang diperintah oleh ayahnya Prabu Dewa Niskala. Sedangkan kerajaan Sunda-Surawisesa (Pakuan/Bogor) masih dipegang oleh kakak ayahnya (ua: Sunda) Prabu Susuk Tunggal.

Sebelum menjadi isteri (permaisuri) Prabu Siliwangi, Nyai Subang Larang telah memeluk Islam dan menjadi santri (murid) Syeikh Hasanuddin atau Syeikh Quro. Ia adalah putera Syeikh Yusuf Siddiq, ulama terkenal di negeri Champa (sekarang menjadi bagian dari Vietnam bagian Selatan). Syeikh Hasanuddin datang ke pulau Jawa (Karawang) bersama armada ekspedisi Muhammad Cheng Ho (Ma Cheng Ho atau Sam Po Kong) dari dinasti Ming pada tahun 1405 M. Di karawang ia mendirikan pesantren yang diberi nama Pondok Quro. Oleh karena itu ia mendapat gelar (laqab) Syeikh Qura. Ajaran yang dikembangkan oleh Syeikh Qura adalah ajaran Islam Madzhab Hanafiah.

Pondok Quro yang didirikan oleh Syeikh Hasanuddin tersebut merupakan lembaga pendidikan Islam (pesantren) pertama di tanah Pasundan. Kemudian setelah itu muncul pondok pesantren di Amparan Jati daerah Gunung Jati (Syeikh Nurul Jati). Setelah Syeikh Nurul Jati meninggal dunia, pondok pesantren Amparan Jati dipimpin oleh Syeikh Datuk Kahfi atau Syeikh Idhopi, seorang ulama asal Arab yang mengembangkan ajaran Islam madzhab Syafi’iyyah.

Sepeninggal Syeikh Hasanuddin, penyebaran Islam melalui lembaga pesantren terus dilanjutkan oleh anak keturunannya, di antaranya adalah Musanuddin atau Lebe Musa atau Lebe Usa, cicitnya. Dalam sumber lisan, Musanuddin dikenal dengan nama Syeikh Benthong, salah seorang yang termasuk kelompok wali di pulau Jawa (Yuyus Suherman, 1995:13-14).

Dengan latar belakang kehidupan keberagamaan ibunya seperti itulah, maka Cakrabuana yang pada waktu itu bernama Walangsungsang dan adiknya Nyai Lara Santang memiliki niat untuk menganut agama ibunya daripada agama ayahnya (Sanghiyang) dan keduanya harus mengambil pilihan untuk tidak tetap tinggal di lingkungan istana. Dalam cerita Babad Cirebon dikisahkan bahwa Cakrabuana (Walangsungsang) dan Nyai Lara Santang pernah meminta izin kepada ayahnya, Prabu Jaya Dewata, yang pada saat itu masih menjadi raja bawahan di Sindangkasih untuk memeluk Islam. Akan tetapi, Jaya Dewata tidak mengijinkannya. Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang akhirnya meninggalkan istana untuk berguru menimba pengetahuan Islam. Selama berkelana mencari ilmu pengetahuan Islam, Walangsungsang menggunakan nama samaran yaitu Ki Samadullah. Mula-mula ia berguru kepada Syeikh Nurjati di pesisir laut utara Cirebon. Setelah itu ia bersama adiknya, Nyai Mas Lara Santang berguru kepada Syeikh Datuk Kahfi (Syeikh Idhopi).

Selain berguru agama Islam, Walangsungsang bersama Ki Gedeng Alang Alang membuka pemukinan baru bagi orang-orang yang beragama Islam di daerah pesisir. Pemukiman baru itu dimulai tanggal 14 Kresna Paksa bukan Caitra tahun 1367 Saka atau bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 849 Hijrah (8 April 1445 M). Kemudian daerah pemukiman baru itu diberi nama Cirebon (Yuyus Suherman, 1995:14). Penamaan ini diambil dari kata atau bahasa Sunda, dari kata “cai” (air) dan “rebon” (anak udang, udang kecil, hurang). Memang pada waktu itu salah satu mata pencaharian penduduk pemukiman baru itu adalah menangkap udang kecil untuk dijadikan bahan terasi. Sebagai kepada (kuwu; Sunda) pemukiman baru itu adalah Ki Gedeng Alang Alang, sedangkan wakilnya dipegang oleh Walangsungsang dengan gelar Pangeran Cakrabuana atau Cakrabumi.

Setelah beberapa tahun semenjak dibuka, pemukian baru itu (pesisir Cirebon) telah menjadi kawasan paling ramai dikunjungi oleh berbagai suku bangsa. Tahun 1447 M, jumlah penduduk pesisir Cirebon berjumlah 348 jiwa, terdiri dari 182 laki-laki dan 164 wanita. Sunda sebanyak 196 orang, Jawa 106 orang, Andalas 16 orang, Semenanjung 4 orang, India 2 orang, Persia 2 orang, Syam (Damaskus) 3 orang, Arab 11 orang, dan Cina 6 orang. Agama yang dianut seluruh penduduk pesisir Cirebon ini adalah Islam.

Untuk kepentingan ibadah dan pengajaran agama Islam, pangeran Cakrabuana (Walangsungsang atau Cakrabumi, atau Ki Samadullah) kemudian ia mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Sang Tajug Jalagrahan (Jala artinya air; graha artinya rumah), Mesjid ini merupakan mesjid pertama di tatar Sunda dan didirikan di pesisir laut Cirebon. Mesjid ini sampai saat ini masih terpelihara dengan nama dialek Cirebon menjadi mesjid Pejalagrahan. Sudah tentu perubahan nama ini, pada dasarnya berpengaruh pada reduksitas makna historisnya. Setelah mendirikan pemukiman (padukuhan; Sunda) baru di pesisir Cirebon, pangeran Cakrabuana dan Nyai Mas Lara Santang pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Ketika di Mekah, Pangeran Cakrabuana dan Nyai Mas Lara Santang bertemu dengan Syarif Abdullah, seorang penguasa (sultan) kota Mesir pada waktu itu. Syarif Abdullah sendiri, secara geneologis, merupakan keturunan Nabi Muhammad Saw. generasi ke-17.

Dalam pertemuan itu, Syarif Abdullah merasa tertarik hati atas kecantikan dan keelokan Nyai Mas Lara Santang. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, Pangeran Cakrabuana mendapat gelar Haji Abdullah Iman, dan Nyai Mas Lara Santang mendapat gelar Hajjah Syarifah Muda’im. Selanjutnya, Nyai Mas Larasantang dinikahkan oleh Pangeran Cakrabuana dengan Syarif Abdullah. Di Mekah, Pangeran Walangsungsang menjadi mukimin selama tiga bulan. Selama tiga bulan itulah, ia belajar tasawuf kepada haji Bayanullah, seorang ulama yang sudah lama tinggal di Haramain. Selanjutnya ia pergi ke Baghdad mempelajari fiqh madzhab Hanafi, Syafi’i, Hambali, dan Maliki.

Selang beberapa waktu setelah pengeran Cakrabuana kembali ke Cirebon, kakeknya dari pihak ibu yang bernama Mangkubumi Jumajan Jati atau Ki Gedeng Tapa meninggal dunia di Singapura (Mertasinga). Yang menjadi pewaris tahta kakeknya itu adalah pangeran Cakrabuana. Akan tetapi, Pangeran Cakrabuana tidak meneruskan tahta kekuasaan kakeknya di Singapura (Mertasinga). Ia membawa harta warisannya ke pemukiman pesisir Cirebon. Dengan modal harta warisan tersebut, pangeran Cakrabuana membangun sebuah keraton bercorak Islam di Cirebon Pesisir. Keraton tersebut diberi nama Keraton Pakungwati. Dengan berdirinya Keraton Pakungwati berarti berdirilah sebuah kerajaan Islam pertama di tatar Sunda Pajajaran. Kerajaan Islam pertama yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana tersebut diberi nama Nagara Agung Pakungwati Cirebon atau dalam bahasa Cirebon disebut dengan sebutan Nagara Gheng Pakungwati Cirebon.

Mendengar berdirinya kerajaan baru di Cirebon, ayahnya Sri Baduga Maharaja Jaya Dewata (atau Prabu Suliwangi) merasa senang. Kemudian ia mengutus Tumenggung Jayabaya untuk melantik (ngistrénan; Sunda) pangeran Cakrabuana menjadi raja Nagara Agung Pakungwati Cirebon dengan gelar Abhiseka Sri Magana. Dari Prabu Siliwangi ia juga menerima Pratanda atau gelar keprabuan (kalungguhan kaprabuan) dan menerima Anarimakna Kacawartyan atau tanda kekuasaan untuk memerintah kerajaan lokal. Di sini jelaslah bahwa Prabu Siliwangi tidak anti Islam. Ia justeru bersikap rasika dharmika ring pamekul agami Rasul (adil bijaksana terhadap orang yang memeluk agama Rasul Muhammad).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa yang pertama sukses menyebarkan agama Islam di tatar Sunda adalah Pangeran Cakrabuana atau Walangsungsang atau Ki Samadullah atau Haji Abdullah Iman. Ia merupakan Kakak Nyai Mas Lara Santang dan Kian Santang, dan ketiganya merupakan anak-anak dari Prabu Siliwangi. Dengan demikian, ia merupakan paman (ua; Sunda) dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Ia dimakamkan di Gunung Sembung dan makamnya berada luar komplek pemakaman (panyawéran; Sunda) Sunan Gunung Jati.

Tokoh Kian Santang

SEBAGAIMANA halnya dengan prabu Siliwangi, Kian Santang merupakan salah satu tokoh yang dianggap misterius. Akan tetapi tokoh ini, dalam cerita lisan dan dunia persilatan (kependekaran) di wilayah Sunda, terutama di daerah Priangan, sangatlah akrab dan legendaris dengan pikiran-pikiran orang Sunda. Dalam tradisi persilatan, Kian Santang terkenal dengan sebutan Gagak Lumayung. Sedangkan nama Kian Santang sendiri sangat terkenal dalam sejarah dakwah Islam di tatar Sunda bagian pedalaman.

Sampai saat ini terdapat beberapa versi mengenai tokoh sejarah yang satu ini. Bahkan tidak jarang ada juga yang meragukan tentang keberadaan tokoh ini. Alasannya adalah bahwa sumber sejarah yang akurat faktual dari tokoh ini kurang dapat dibuktikan. Sudah tentu pendapat semacam ini adalah sangat gegabah dan ceroboh serta terburu-buru dalam mengambil kesimpulannya. Jika para sejarawan mau jujur dan teliti, banyak sumber-sumber sejarah yang dapat digunakan bahan penelitian lanjut mengenai tokoh ini, baik itu berupa sumber sejarah lisan, tulisan, maupun benda-benda sejarah. Salah satunya adalah patilasan Kian Santang di Godog Garut, atau Makam Kian Santang yang berada di daerah Depok Pakenjeng Garut. Kalaulah ada hal-hal yang berbau mitos, maka itu adalah merupakan tugas sejarawan untuk memilahnya, bukannya memberi generalisir yang membabi buta, seolah-olah dalam seluruh mitologi tidak ada cerita sejarah yang sebenarnya.

Sampai saat ini terdapat empat sumber sejarah (lisan dan tulisan) yang menceritakan tentang sepak terjang tokoh Kian Santang yang sangat legendaris itu. Keempat sumber itu, ialah (1) cerita rakyat, (2) sejarah Godog yang diceritakan secara turun menurun; (3) P. de Roo de la Faille; dan 4) Babad Cirebon karya P.S. Sulendraningrat. Terdapat beberapa versi cerita rakyat mengenai perjalanan dakwah Kian Santang, dikisahkan bahwa Prabu Kian Santang bertanding kekuatan gaib dengan Sayyidina Ali dan Prabu Kian Santang tidak mampu mencabut tongkat yang ditancapkan oleh Baginda Ali kecuali sesudah Prabu Kian Santang membaca kalimat Syahadat.

Di dalam cerita lisan lainnya, dikisahkan bahwa Prabu Kian Santang adalah putera raja Pajajaran yang masuk Islam. Ia pergi ke Arab, masuk Islam dan setelah kembali ia memakai nama Haji Lumajang. Cerita lainnya lagi mengatakan bahwa Prabu Kian Santang mengajar dan menyebarkan agama Islam di Pajajaran dan mempunyai banyak pengikut; dan banyak pula putra raja yang masuk Islam; bahwa Prabu Kian Santang diusir dari keraton dan tidak lagi menganut agama nenek moyangnya dan menghasut raja Pajajaran, bahwa ia akhirnya pergi ke Campa sewaktu kerajaan Pajajaran runtuh.

Dari cerita rakyat tersebut terdapat alur logis yang menunjukkan kebenaran adanya tokoh Kian Santang sebagai salah seorang penyebar agama Islam di tanah Pasundan. Misalnya alur cerita tentang “Haji Lumajang” atau ia pergi ke Campa ketika kerajaan Pajajaran runtuh. Atau istilah Pajajaran itu sendiri yang sesuai dengan data arkeologi dan sumber data yang lainya seperti Babad tanah Cirebon dan lainnya.

Adapun mengenai pertemuannya dengan Sayyidina Ali, boleh jadi nama tersebut bukanlah menantu Rasulullah yang meninggal pada tahun 661 M, melainkan seorang syekh (guru) tarekat tertentu atau pengajar tertentu di Mesjid al-Haram. Jika sulit dibuktikan kebenarannya, maka itulah suatu bumbu dari cerita rakyat; bukan berarti seluruh cerita itu adalah mitos, tahayul, dan tidak ada buktinya dalam realitas sejarah manusia Sunda.

Sejalan dengan cerita rakyat di atas, P. de Roo de la Faille menyebut bahwa Kian Santang sebagai Pangeran Lumajang Kudratullah atau Sunan Godog. Ia diidentifikasi sebagai salah seorang penyebar agama Islam di tanah Pasundan. Kesimpulan ini didasarkan pada bukti-bukti fisik berupa satu buah al-Qur’an yang ada di balubur Limbangan, sebuah skin (pisau Arab) yang berada di desa Cinunuk (distrik) Wanaraja Garut, sebuah tongkat yang berada di Darmaraja, dan satu kandaga (kanaga, peti) yang berada di Godog Karangpawitan Garut.

Dalam sejarah Godog, Kian Santang disebutnya sebagai orang suci dari Cirebon yang pergi ke Preanger (Priangan) dan dari pantai utara. Ia membawa sejumlah pengikut agama Islam. Adapun yang menjadi sahabat Kian Santang setelah mereka masuk Islam dan bersama-sama menyebarkan Islam, menurut P. de Roo de la Faille, berjumlah 11 orang, yaitu 1) Saharepen Nagele, 2) Sembah Dora, 3) Sembu Kuwu Kandang Sakti (Sapi), 4) Penghulu Gusti, 5) Raden Halipah Kandang Haur, 6) Prabu Kasiringanwati atau Raden Sinom atau Dalem Lebaksiuh, 7) Saharepen Agung, 8 ) Panengah, 9) Santuwan Suci, 10) Santuwan Suci Maraja, dan 11) Dalem Pangerjaya.

Dari seluruh cerita rakyat tersebut dapat disimpulkan bahwa Kian Santang merupakan salah seorang putra Pajajaran, yang berasal dari wilayah Cirebon dan merupakan seorang penyebar agama Islam di Pajajaran. Kesimpulan ini dapat dicocokkan dengan berita yang disampaikan oleh P.S. Sulendraningrat yang mengatakan bahwa pada abad ke-13, kerajaan Pajajaran membawahi kerajaan-kerajaan kecil yang masing-masing diperintah oleh seorang raja. Di antaranya adalah kerajaan Sindangkasih (Majalengka) yang diperintah oleh Sri Baduga Maharaja (atau Prabu Jaya Dewata alias Prabu Siliwangi). Pada waktu itu Prabu Jaya Dewata menginspeksi daerah-daerah kekuasaannya, sampailah ia di Pesantren Qura Karawang, yang pada waktu itu dipimpin oleh Syeikh Hasanuddin (ulama dari Campa) keturunan Cina. Di pesantren inilah ia bertemu dengan Subang Larang, salah seorang santri Syeikh Qura yang kelak dipersunting dan menjadi ibu dari Pangeran Walangsungsang, Ratu Lara Santang, dan Pangeran Kian Santang.

Berdasarkan uraian di atas, maka jelaslah bahwa Kian Santang merupakan salah seorang penyebar agama Islam di tanah Pasundan yang diperkirakan mulai menyiarkan dan menyebarkan agama Islam pada tahun 1445 di daerah pedalaman. Ia adalah anak dari Prabu Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi, raja terakhir Pajajaran. Ia berasal dari wilayah Cirebon (Sindangkasih; Majaengka), yaitu ketika bapaknya masih menjadi raja bawahan Pajajaran, ia melarikan diri dan menyebarkan Islam di wilayah Pasundan (Priangan) dan Godog, op groundgebied. Limbangan merupakan pusat penyebaran agama Islam pertama di Tatar Sunda (khususnya di wilayah Priangan). Selain di Godog pada waktu itu, sebagian kecil di pantai utara sudah ada yang menganut Islam sebagai hubungan langsung dnegan para pedagang Arab dan India.

Mula-mula Kian Santang mengislamkan raja-raja lokal, seperti Raja Galuh Pakuwon yang terletak di Limbangan, bernama Sunan Pancer (Cipancar) atau Prabu Wijayakusumah (1525-1575). Raja yang satu ini merupakan putra Sunan Hande Limasenjaya dan cucu dari Prabu Layangkusumah. Prabu Layangkusumah sendiri adalah putra Prabu Siliwangi. Dengan demikian Sunan Pancer merupakan buyut Prabu Siliwangi. Kian Santang menghadiahkan kepada Sunan Pancer satu buah al-Qur;an berkukuran besar dan sebuak sekin yang bertuliskan lafadz al-Qur’an la ikroha fiddin. Berkat Sunan Pancer ini Islam dapat berkembang luas di daerah Galuh Pakuwon, sisi kerajaan terakhir Pajajaran.

Para petinggi dan raja-raja lokal lainnya yang secara langsung diIslamkan oleh Kian Santang di antaranya, ialah (1) Santowan Suci Mareja (sahabat Kian Santang yang makamnya terletak dekat makam Kian Santang); 2) Sunan Sirapuji (Raja Panembong, Bayongbong), 3) Sunan Batuwangi yang sekarang terletak di kecamatan Singajaya (ia dihadiahi tombak oleh Kian Santang dan sekarang menjadi pusaka Sukapura dan ada di Tasikmalaya.

Melalui raja-raja lokal inilah selanjutnya Islam menyebar ke seluruh tanah Priangan. Kemudian setelah itu Islam disebarkan oleh para penyebar Islam generasi berikutnya, yaitu para sufi seperti Syeikh Jafar Sidiq (Penganut Syatariah) di Limbangan, Eyang Papak, Syeikh Fatah Rahmatullah (Tanjung Singguru, Samarang, Garut), Syeikh Abdul Muhyi (penganut Syatariyah; Pamijahan, Tasikmalaya), dan para menak dan ulama dari Cirebon dan Mataram seperti Pangeran Santri di Sumedang dan Arif Muhammad di Cangkuang (Garut).

Tokoh Syarif Hidayatullah

SEPERTI telah diuraikan di atas bahwa ketika selesai menunaikan ibadah haji, Nyi Mas Larasantang dinikahkan oleh kakaknya (Walangsungsang) dengan Syarif Abdullah, seorang penguasa kota Mesir dari klan al-Ayyubi dari dinasti Mamluk. Ia adalah putera dari Nurul Alim atau Ali Burul Alim yang mempunyai dua saudara, yaitu Barkat Zainal Abidin (buyut Fadhilah Khan, Faletehan) dan Ibrahim Zainal Akbar, yaitu ayah dari Ali Rahmatullah atau raden Rahmat atau Sunan Ampel (Yuyus Suherman, 1995:14). Nurul Alim, Barkat Zainal Abidin, dan Ibrahim Zainal Akbar merupakan keturunan Rasulullah saw. Nurul Alim menikah dengan puteri penguasa Mesir (wali kota), karena itulah Syarif Abdullah (puteranya) menjadi penguasa (wali kota) Mesir pada masa dinasti Mamluk. Hasil pernikahan antara Syarif Abdullah dengan Nyi Mas Larasantang melahirkan dua putera yaitu, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang lahir di Mekkah pada tahun 1448 dan Syarif Nurullah yang lahir di Mesir.

Syarif Hidayatullah muda berguru agama kepada beberapa ulama terkenal saat itu. Di antaranya ia berguru kepada Syeikh Tajuddin al-Kubri di Mekkah dan Syeikh Athaillah, seorang penganut terekat Sadziliyyah dan pengarang kitab tasawuf, al-Hikam, masing-masing selama dua tahun. Setelah merasa cukup pengetahuan agamanya, ia memohon kepada kedua orang tuanya untuk berkunjung kepada kakak ibunya (Pangeran Cakrabuana) di Cirebon yang pada waktu itu menduduki tahta kerajaan Islam Pakungwati.

Selama di perjalanan menujuk kerajaan Islam Pakungwati di Cirebon, Syarif Hidayatullah menyempatkan diri untuk singgah di beberapa tempat yang dilaluinya. Di Gujarat India, ia singgah selama tiga bulan dan sempat menyebarkan Islam di tempat itu. Di Gujarat ia mempunyai murid, yaitu Dipati Keling beserta 98 anak buahnya. Bersama Dipati Keling dan pengikutnya, ia meneruskan perjalanannya menuju tanah Jawa. Ia pun sempat singgah di Samudera Pasai dan Banten. Di Pasai ia tinggal selama dua tahun untuk menyebarkan Islam bersama saudaranya Syeikh Sayyid Ishak. Di Banten ia sempat berjumpa dengan Sayyid Rakhmatullah (Ali Rakhmatullah atau Syeikh Rahmat, atau Sunan Ampel) yang sedang giatnya menyebarkan Islam di sana.

Sesampainya di Cirebon, Syarif Hidayatullah giat menyebarkan agama Islam bersama Syeikh Nurjati dan Pangeran Cakrabuana. Ketika itu, Pakungwati masih merupakan wilayah kerajaan Galuh dengan rajanya adalah Prabu Jaya Dewata, yang tiada lain adalah kakek dari Syarif Hidayatullah dan ayah dari Nyi Mas Larasantang. Oleh karena itu, Prabu Jaya Dewata tidak merasa khawatir dengan perkembangan Islam di Cirebon. Syarif Hidayatullah bahkan diangkat menjadi guru agama Islam di Cirebon, dan tidak lama kemudian ia pun diangkat semacam “kepala” di Cirebon. Syarif Hidayatullah giat mengadakan dakwah dan menyebarkan Islam ke arah selatan menuju dayeuh (puseur kota) Galuh. Prabu Jaya Dewata mulai gelisah, kemudian ia memindahkan pusat pemerintahannya ke Pakuan Pajajaran yang terletak di wilayah kerajaan Sunda dengan rajanya Prabu Susuktunggal, yang masih merupakan paman (ua; Sunda) dari Jaya Dewata. Tetapi karena Pabu Jaya Dewata menikah dengan Mayang Sunda, puteri Susuk Tunggal, maka perpindahan bobot kerajaan dari Galuh (Kawali Ciamis) ke Pakuan Pajajaran (Bogor) bahkan mempersatukan kembali Galuh-Sunda yang pecah pada masa tahta Prabu Dewa Niskala, ayah Prabu Jaya Dewata. Di Pajajaran, Prabu Jaya Dewata mengganti namanya menjadi Sri Baduga Maharaja (lihat Didi Suryadi, Babad Limbangan, 1977:46).

Pada tahun 1479, Pangeran Cakrabuana mengundurkan diri dari tapuk pimpinan kerajaan Pakungwati. Sebagai penggatinya, maka ditasbihkanlah Syarif Hidayatullah sebagai sultan Cirebon yang baru. Di bawah pimpinan Syarif Hidayatullah, Pakungwati mengalami puncak kemajuannya, sehingga atas dukungan dari rakyat Cirebon, Wali Songo, dan Kerajaan Demak, akhirnya Pakungwati melepaskan diri dari Pajajaran. Sudah tentu, sikap ini mengundang kemarahan Prabu Jaya Dewata dan berusaha mengambil alih kembali Cirebon. Namun penyerangan yang dilakukan Prabu Jaya Dewata tidak berlangsung lama. Dikatakan bahwa Prabu Jaya Dewata mendapatkan nasihat dari para Purohita (pemimpin agama Hyang) yang menyatakan bahwa tidak pantas terjadi pertumpahan darah antara kakek dan cucunya. Lagi pula berdirinya Cirebon pada dasarnya merupakan atas jerih payah putera darah biru Pajajaran, yaitu Pengeran Cakrabuana.

Pada tanggal 13 Desember 1521 M, Prabu Siliwangi mengundurkan diri dari tahta kerajaan Pajajaran, untuk selanjutnya menjadi petapa suci sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya. Sebagai penggantinya adalah Pangeran Surawisesa yang dilantik pada bukan Agustus 1522 M dengan gelar Sanghyang. Pangeran Surawisesa inilah yang secara resmi melakukan perjanjian kerjasama dengan Portugis yang naskah perjanjiannya ditandatangani pada 21 Agustus 1522 M, berisi tentang kerjasama di bidang perdagangan dan pertahanan. Rintisan kerja sama antara Pajajaran dan Portugis itu telah dirintis sejak Prabu Jaya Dewata masih berkuasa. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa pertama dalam sejarah diplomatik Nusantara, boleh dikatakan bahwa ia merupakan seorang raja dari Nusantara yang pertama kali melakukan hubungan diplomatik dengan orang-orang Eropa.

Perjanjian kerjasama antara Pajajaran dan Portugis itu telah menimbulkan kekhawatiran bagi kerajaan Demak dan Cirebon. Karena itulah pada tahun 1526 M, Sultan Trenggono dari Demak mengutus Fadhilah Khan (Fathailah atau Faletehan) ke Cirebon untuk sama-sama menguasai Sunda Kelapa yang pada waktu itu masih berada dalam kekuasaan Pajajaran. Strategi ini diambil agar pihak Portugis tidak dapat menduduki pelabuhan Sunda Kelapa. Tidak berapa lama pad atahun 1527 M Portugis datang ke Sunda Kelapa untuk mewujudkan cita-cita mendirikan benteng di Muara Kali Ciliwung daerah bandar Sunda Kelapa. Namun pasukan Portugis dipukul mundur oleh pasukan Fadhilah Khan yang waktu itu sudah bergelar Pangeran Jayakarta.

Banyak nama yang dinisbahkan pada Pengeran terakhir ini, yaitu Pengeran Jayakarta, Fatahilah, Faletehan, Tagaril, dan Ki Bagus Pase. Penisbahan nama terakhir terhadapnya karena ia berasal dari Samudera Pasai. Ia merupakan menantu Sultan Trenggono dan Sultan Syarif Hidayatullah. Hal ini karena Faletehan selain menikah dengan Ratu Pembayun (Demak), ia juga menikah dengan Ratu Ayu atau Siti Winahon, puteri Syarif Hidayatullah, janda Pati Unus yang gugur di Malaka (Yuyus Suherman, 1995:17). Dengan menikahi putri Demak dan Cirebon, maka Faletehan memiliki kedudukan penting di lingkungan keluarga kedua keraton itu. Karena itulah, ketika Syarif Hidayatullah meninggal pada 19 September 1568 M, maka Faletehan diangkat menjadi pengganti Syarif Hidayatullah sebagai Sultan di Cirebon. Peristiwa itu terjadi ketika Pangeran Muhammad Arifin (Pangeran Pasarean), putra Syarif Hidayatullah, mengundurkan diri dari tahta kerajaan Islam Cirebon. Muhammad Arifin sendiri lebih memilih menjadi penyebar Islam di tatar Sunda bagian utara dan sejak itulah ia lebih dikenal dengan nama Pangeran Pasarean.

Ketika Faletehan naik tahta di Cirebon ini, saat itu, Jayakarta (Sunda Kelapa) diperintah oleh Ratu Bagus Angke, putra Muhammad Abdurrahman atau Pangeran Panjunan dari putri Banten. Namun Faletehan menduduki tahta kerajaan Cirebon dalam waktu yang tidak lama, yakni hanya berlangsung selama dua tahun, karena ia mangkat pada tahun 1570 M. Ia dimakamkan satu komplek dengan mertuanya, Syarif Hidayatullah, yakni di Astana Gunung Jati Cirebon. Ia kemudian digantikan oleh Panembahan Ratu.

Khatimah

DEMIKIANLAH sekilas mengenai uraian historis tentang peran Pangeran Cakrabuana, Kian Santang, dan Syarif Hidayatullah dalam proses penyebaran Islam di tanah Pasundan yang sekarang menjadi tiga wialyah, yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Berdasarkan uraian di atas, maka terdapat beberapa kesimpulan dan temuan sementara yang dapat dijadikan bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya.

Pertama, bahwa orang yang pertama menyebarkan Islam di daerah pesisir utara Cirebon adalah Pangeran Walangsungsang atau Adipati Cakrabuana atau Ki Cakrabumi atau Ki Samadullah atau Syeikh Abdul Iman, yang mendirikan kerajaan pertama Islam Pakungwati. Ia adalah ua dari Syarif Hdiayatullah.

Kedua, Kian Santang merupakan anak ketiga dari pasangan Prabu Siliwangi dan Nyi Subang Larang yang beragama Islam. Ia dilahirkan pada tahun 1425, dua puluh lima tahun sebelum lahir Sunan Gunung Jati dan Mualana Syarif Hidayatullah. Ia mulai menyebarkan agama Islam di Godog, Garut pada tahun 1445. Ia adalah penyebar Islam pertama di pedalaman tatar Sunda. Ia merupakan paman dari Syarif Hidayatullah. Ia disebutkan berasal dari wilayah Cirebon, tepatnya dari Kerajaan Sindangkasih (Majalengka).

Ketiga, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati adalah nama tokoh yang berbeda dengan Faletehan. Keduanya memiliki peran yang berbeda dalam usaha menyebarkan agama Islam di tanah Pasundan.

Daftar Pustaka

Didi Suryadi. 1977. Babad Limbangan.
Edi S. Ekajati. 1992. Sejarah Lokal Jawa Barat. Jakarta: Interumas Sejahtera.
_________. 1995. Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarahi). Jakarta: Pustaka Jaya.
Hamka. 1960. Sejarah Umat Islam. Jakarta: Nusantara.
Pemerintahan Propinsi Jawa Barat. 1983. Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat.
Sulaemen Anggadiparaja. T.T. Sejarah Garut Dari Masa Ke Masa. Diktat.
Yuyus Suherman. 1995. Sejarah Perintisan Penyebaran Islam di Tatar Sunda. Bandung: Pustaka.
Parang Teritis - Parang Anom Bersama KH. Mustafit Ali (Ketua PC Pagar Nusa Kab. Cirebon & Rusmadi A./Rion Ketua PC Pagar Nusa Kota Depok)






 


DOA NURBUAT DAN KEISTIMEWAANNYA

Doa Nurbuat (Nurbuwah / Cahaya Nabi)
merupakan satu-satunya doa yang memiliki
banyak khasiat, tentu saja bila diamalkan dengan
hati yang benar-benar ihklas karena Allah.
Dikisahkan bahwa Rasulullah setelah sholat subuh
duduk di masjid bersama para sahabat. Kemudian
datanglah malaikat Jibril membawa doa Nurbuat
seraya berkata: “Aku diutus oleh Allah membawa
doa Nurbuat untuk diserahkan kepadamu
(Rasulullah).”

Doa Nurbuat:

Bismillaahir rohmaanir rohiim. Allahumma
dhisshulthanil adziim. Wa dzil mannil qadim
wa dzil wajhil kariim wa waliyyil kalimaatit
tammaati wad da’awaati mustajaabati wa
‘aaqilil khasani wal khusaini min anfusil
haqqi wa ‘ainil qudrati wannaazhirinna wa
‘ainil insi wal jinni wa syayathin wa
iyyakadul ladzinna kafaruu la yuzliquunaka
bi-abshaarihim lamma sami’udz dzikra wa
yaquuluuna innahu lamajnuun wa maa huwa
illa dzikrul lil ‘aalamiin wa mustajaabu
luqmanil khakiimi wa waritsa sulaimaanu
daawuda ‘alaihis salaamu ya waduudu ya
Allah Ya dzul ‘arsyil ‘adhiim.ya fa-’alul
lima yuridhu thawwil ‘umrii wa shahhih
ajsadii waqdli khaajatii wa aktsir amwaalii
wa aulaadii wa khabbib linnaasi ajma’in.
Watabaa ‘adil ‘adaa wata kullahaa min
banii aadama ‘alaihis salaamu man kaana
hayya wa yahiqqal qoulu ‘alal kaafirin,
waqul ja-’al khaqqu wazahaqol baathilu
innal baathila kaana zahuuqaa. Wa nunazzilu
minal qur’aani maa huwa syifaa-uw wa
rahmatul lil mu’miniina.wala
yazidhudhdholimiina illa khostaro. Subhaana
rabbika rabbil ‘izzati ‘ammmaa
yashifuuna wa salaamun ‘alal murshaliina
wal hamdu lillahi rabbil ‘aalamiin.


Artinya: (terjemahan bebasnya)
“Ya Allah robb yang memiliki kekuatan yang
agung, yang memiliki kemauan yang abadi dan
yang memiliki wajah yang mulia dan sebagai
pelindung kalimat-kalimat-nya serta pengabul
do’a-do’a, kecerdasan hasan dan husein dari jiwa
yang benar, pelindung indra mereka yang melihat
serta indra jin dan manusia. Dan ketika orang-
orang kafir akan menggelincirkan kamu dengan
penglihatan sihir mereka tatkala mereka
mendengar peringatan lalu mereka berkata-kata,
sesungguhnya ia adalah gila. Tiadalah itu semua
melainkan sebagai peringatan bagi seluruh alam.
Allah yang mengabulkan do’a luqmanul hakim dan
mewariskan sulaiman bin daud a.s. Ya allah robb
yang maha penuh kasih, ya allah, ya allah, ya allah
robb yang memiliki singgasana yang agung, yang
dapat berbuat apa yang diinginkan, maka
panjangkanlah umurku dan sehatkanlah tubuhku,
perkenankanlah hajatku, limpahkanlah hartaku dan
anak-anakku, dan berikanlah rasa cinta semua
manusia kepadaku, jauhkanlah permusuhan dan
pertentangan dari diriku dari semua anak cucu
adam a.s. Allah yang hidup dan perkataan itu
benar atas orang-orang kafir. Dan katakanlah
telah datang yang haq dan telah sirnalah yang
bathil karena sesungguhnya yang bathil itu pasti
akan sirna. Dan kami telah menurunkan al-qur’an
itu sebagai penyembuh dan rahmat untuk orang-
orang yang beriman. Dan orang-orang yang
dhalim itu tidaklah mendapat sesuatu di dunia ini
melainkan kerugian.”

Khasiat yang terkandung dalam doa Nurbuat
antara lain:

• Hajat dapat terkabul, jika dibaca sesudah sholat
fardlu secara rutin.
• Dapat bertemu dengan Jin, bisa merubah rupa .
• Dapat menyembuhkan hewan yang cacad bila
dibacakan pada hewan tersebut.
• Dapat diampuni dosa kita, jika dibaca ketika
matahari terbenam.
• Dapat disayangi oleh musuh, jika dibaca ketika
hendak keluar rumah.
• Dapat menjadi penjaga rumah dari gangguan
jin, sihir, santet dan bahaya lainnya, jika ditulis lalu
disimpan di dalam rumah.
• Dapat menyelamatkan serangan hama, jika
ditulis lalu diletakkan pada tanaman.
• Dapat mengusir jin dari tempat-tempat angker,
jika ditulis dan diletakkan di tempat tersebut.
• Dapat kesejahteraan dunia akhirta jika dibaca
setiap hari secara rutin.
• Dapat menjauhkan dari kekufuran dan
perbuatan maksiat jika dibaca 50 kali setiap
malam Jum’at.
• Dapat memperlihatkan hal-hal yang indah, jika
dibaca 100 kali pada malam Sabtu.
• Dapat menawarkan air laut, jika dibaca lalu
ditiupkan pada air laut tersebut.
• Dapat awet muda jika dibaca setiap malam
Minggu
• Dapat keselamatan hidup jika dibaca setiap
malam Senin.
• Dapat menguatkan tubuh jika dibaca setiap
malam Selasa.
• Dapat menguatkan gigi jika dibaca setiap
malam Rabu.
• Dapat menjadikan wajah tampak lebih tampan/
cantik jika dibaca setiap malam Kamis.
• Dapat menjinakkan binatang buas jika dibaca
pada telinga binatang tersebut.
• Dapat bertemu Nabi Muhammad dalam mimpi
jika dibaca 100 kali sebelum tidur.
• Dapat menyembuhkan segala macam penyakit
jika dibacakan pada minyak kelapa lalu dioleskan
pada bagian yang sakit tersebut.
• Dapat dikasihi oleh penguasa, pejabat jika
dibaca setiap hari.
• Dapat berjalan jauh, jika dibacakan pada daun
sirih yang bertemu ruasnya lalu diioleskan
keseluruh tubuh dan kedua kaki.
• Dapat bertemu dengan raja jin jika dibaca pada
tengah malam dalam keadaan suci.
• Dapat keselamatan dari pertempuran jika
dibaca ketika akan berangkat bertempur.
• Dapat diterima lamaranya jika dibaca ditempat
sunyi setelah siangnya berpuasa.
• Dapat memudahkan kelahiran jika dibacakan
pada segelas air lalu diminumkan pada Ibu yang
akan melahirkan tersebut.
• Dapat menyembuhkan sakit pada mata jika
dibaca lalu ditiupkan pada mata yang sakit.
• Dapat menyembuhkan gigitan binatang berbisa
jika dibaca lalu ditiupkan pada gigitan tersebut.
• Dapat kemuliaan di lingkungan masyarakat jika
dibaca secara rutin setiap hari.
• Dapat melenyapkan permusuhan jika dibaca
sebanyak-banyaknya.
Jadi sebetulnya kita tidak perlu pergi ke
paranormal atau dukun agar hajat dan keinginan
kita terkabul. Amalkan saja doa nurbuat ini dengan
hati jernih dan ikhlas hanya karena allah. Wallahu
alam

Jumat, 28 Maret 2014

OLAH TENAGA DALAM



MEMBANGKITKAN OLAH TENAGA DALAM

1. pertama tama, duduk bersila dilantai. konsentrasikan pikiran anda kesatu titik saja. bayangkan seluruh energi dalam tubuh anda mengalir dan rasakan itu.

2. angkat kedua tangan anda sejajar didepan dada. lengan merapat kebadan. telapaknya saling berhadap hadapan. seperti sedang akan sungkem. lalu tariklah nafas dalam dalam. sambil tangan anda mulai dijauh dekatkan satu sama lain. ingat tangan jangan bersentuhan. hanya dipompakan antar tangan satu ketangan lainnya.(memancing energinya keluar)

3. sambil tangan terus begitu. tarik nafas yg dalam dalam lalu buang dengan teratur. kemudian mulailah menggunakan bacaan ini untuk mempercepat proses pengeluaran tenaga dalam tersebut (spt doppingnya lah ) BACAANNYA : YAA...QOWWIYYUU...YA,...MATIIIN.........

4. bacaan tersebut diulang ulang terus, dan semakin cepat beriringan dengan tangan anda yg juga makin cepat memompa satu sama lain. ingat, semakin mulai terasa energinya muncul semakin cepat saja anda mainkan gerakan tangan anda memompa.

5. jika konsentrasi anda benar dan bakat anda besar, maka dalam waktu beberapa menit saja, tangan anda akan bergerak sendiri tanpa dipompa lagi. bahkan jika energi anda besar, tangan itu akan bergerak sampai keatas sangat kencang sekali (seperti putaran kipas angin). bahkan susah untuk dikendalikan. jika anda ingin menghentikan energi tersebut, gampang, tinggal meniatkan berhenti saja maka akan berhenti pula semua itu.

6. jika cara seperti itu sudah berhasil, sekarang kita coba cara yg halus. ulangi sekali lagi semua ritual diatas. hanya kali ini bedanya, tangan anda digerakkan/dipompa satu sama lain secara perlahan saja. bayangkan ditengah antar telapak tangan anda yg satu dengan yg lain ! anda akan merasakan ada seperti bola energi yang seakan menghalangi ditengah tengah. bahkan hawanya akan terasa panas diantara tangan anda. anda pun dapat memegang2 bola energi tersebut spt bola karet yg ditekan tekan

SEJARAH BERDIRINYA PENCAK SILAT NU PAGAR NUSA

 
PIMPINAN CABANG
PENCAK SILAT NAHDLATUL ULAMA PAGAR NUSA
KOTA DEPOK - JAWA BARAT

SEJARAH BERDIRINYA PENCAK SILAT NU PAGAR NUSA



         Ikatan pencak silat NU Pagar nusa,sebagai badan otonom Nahdlatul Ulama yang bertugas menggali, mengembangkan dan melestarikan pencak silat Nahdlatul Ulama sebagai warisan wali songo.

       Berawal dari sebuah perhatian dan sekaligus keprihatinan tentang surutnya dunia persilatan di pelataran pondok pesantren. Padahal pada awalnya pencak silat merupakan kebanggaan yang menyatu dengn kehidupan dan kegiatan pondok pesantren. Tanda-tanda kesurutan antara lain; Hilangnya peran pondok pesantren sebagai padepokan pencak silat. Awalnya pondok pesantren bisa di ibaratkan sebagai sentralkegiatan pencak silat.Kyai atau Ulama pondok pesantren selalu melengkapi dirinya dengan pencak silat,khususnya aspek tenaga dalam atau karomah yang di padu dengan beladiri. Pada saat itu seorang kyai sekaligus juga menjadi pendekar pencak silat. Di sisi lain tumbuh menjamurnya perguruan pencak silat yang lahir seperti jamur di musim penghujan. Dengan segala keanekaragaman, baik di lihat dari segi agama, aqidah maupun kepercayaannya. Satu sama lain bersikap tertutup, menganggap dirinya yang paling baik dan paling kuat. Kebanyakan bersifat lokal sehingga tumbuhnya menjamur dan berguguran setelahnya.

       Keadaan yang demikian mendorong para Ulama pimpinan pondok pesantren, pendekar serta tokoh-tokoh pencak silat untuk musyawarah khususnya mencari jalan keluar, yaitu membuat suatu wadah yang khusus mengelola pencak silat NU pd tgl 12 Muharram 1406M, bertepatan pd tgl 27 September 1985M, berkumpulah para Ulama dan para pendekar di pondok pesantren Tebuireng Jombang Jawa timur, untuk musyawarah dan sepakat membentuk suatu wadah yang khusus mengurus pencak silat Nahdlatul Ulama. Musyawarah tsb di hadiri Tokoh-tokoh pencak silat dari; Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk dan Kediri.

       Pada musyawarah tsb di sepakati antara lain membentuk Ikatan pencak silat NU disingkat (IPS NU), musyawarah berikutnya di adakan di pondok pesantren Lirboyo Kediri Jawa timur, dan meminta PWNU Jatim mengirim utusan utk mengikuti pertemuan di Lirboyo Kediri pd tgl 3 Januari 1986,dan utk pertemuan berikutnya tetap di adakan di tempat yang sama.

       Hadir dalam musyawarah tsb para tokoh pencak silat antara lain dari Pasuruan, Ponorogo, Jombang, Nganjuk dan Kediri.Utusan dari PWNU Jatim yaitu K.Bukhori susanto (Lumajang) dan K.Suharbillah SH.LLT dari Ponpes AN-NAJIYAH sidosermo Surabaya.

       Dalam musyawarah tsb disepakati susunan pengurus harian Jatim merupakan embrio pengurus pusat,sbb;

      Ketua umum   ; K.H.Agus Maksum Djauhari

      Sekretaris        ; Drs.H.Fuad Anwar

      Ketua harian   ; K.H.Drs.Abdur Rahman Utsman

      Ketua I           ; H.Suharbillah SH.LLT

      Sekretaris        ; Drs.H.Fuad Anwar

      Sekretaris I     ; Drs.H.Kuncoro

      Sekretaris II    ; Ashar Lamro

       Nama yang di sepakati adalah Ikatan pencak silat NU di singkat IPS NU.Pada waktu Audiensi dgn Pengurus Wilayah NU Jatim di usulkan nama oleh K.H Anas Thohir selaku pengurus wilayah NU Jatim adalah Ikatan pencak silat NU Pagar nusa yang mempunyai kepanjangan Pagar NU dan Bangsa.Nama tsb di ciptakan oleh K.H Mudjib Ridlwan dari Surabaya, putra dari K.H. Ridlwan Abdullah pencipta lambing NU. Simbol terdiri dari segi lima warna dasar hijau, di dalamnya ada bola dunia dan di depannya ada pita bertulis Logo La Gholiba illabillah dgn arti tiada yang menang kecuali mendapat pertolongan dari Allah. Di lengkapi dengan bintang sembilan dan trisula (di kalangan NU di kenal dgn nama cabang) sebagai symbol pencak silat. Lambang tsb di usulkan oleh H.Suharbillah.SH.LLT. Disempurnakan dan di robah menjadi segi lima oleh peserta musyawarah III di Ponpes Tebuireng Jombang. K.H. Sansuri Badawi sebagai sesepuh dan penasehat yang sempat hadir dalam musyawarah tsb menandaskan bahwa ;

             Logo yang berbunyi       ; Laa Gholiba illallah  di pertahankan

             Tetapi di rubah menjadi ; Laa Gholiba illa billah.

       Untuk membentuk Susunan Pengurus tingkat Nasional PBNU membuat Surat Pengantar kesediaan di tunjuk sbg Pengurus, Surat pengantar tsb di tanda tangani oleh Ketua Umum PBNU K.H. Abdurrahman Wahid, dan Rais Aam K.H Ahmad Siddiq. Insya Allah tanda tangannya K.H Ahmad Siddiq merupakan tanda tangan yang terakhir.

       Lembaga pencak silat NU memenuhi tuntutan organisasi mengadakan Munas I yang di adakan di Ponpes Zainul hasan Genggong Kraksaan Probolinggo Jatim. Surat kesediaan di tempati di tanda tangani oleh K.H Saifurrizal, Insya Allah merupakan tanda tangan beliau yang terakhir. Penentuan tgl pelaksanaan Munas I di tentukan oleh Kyai sendiri yaitu tgl 20-23 September 1991.Ternyata tgl tsb adalah 100 hari wafat beliau. Sehingga waktu pembukaan di adakan Tahlil terlebih dahulu. Sesuai dgn hasil Muktamar NU di Cipasung, Lembaga pencak silat NU Pagar Nusa berubah status dari Lembaga menjadi Badan Otonom, sehingga namanya menjadi; Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa.

Sekitar tahun 1990-an, mulai diperkenalkan pada seluruh Kabupaten/Kotamadya yang ada di Propinsi Jawa Timur. Khususnya di Kabupaten Sidoarjo atau yang dikenal sebagai kota udang. Sejak diperkenalkan, Pagar Nusa merupakan salah satu organisasi pencak silat yang dapat di perhitungkan terutama dalam bidang prestasi. Tidak hanya itu, Pagar Nusa juga menjadi salah satu ikon penting pada dunia pendidikan terutama pada lingkungan Ma'arif.

Senin, 24 Maret 2014

SELAMAT DATANG DI BLOG PAGAR NUSA KOTA DEPOK

Blog ini akan berisi tentang berita-berita, kegiatan-kegiatan dan jadwal acara PAGAR NUSA KOTA DEPOK sehingga menjadi wadah informasi dan dokumentasi segala kegiatan.

Semoga segala apa yang di muat dalam Blog ini akan menjadi manfaat dan motivasi bagi seluruh umat. Amin...!!

wasalam..

"Salam Pagar Nusa"